29 Maret 2013 - 15:36

"Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat."

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Kazem Seddiqi, dalam khutbah Jum'atnya (29/3) di Teheran Ibu Kota Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawanya menyambut masuknya hari peringatan kesyahidan Sayyidah Fatimah as dan menyampaikan beberapa hal yang telah menjadi keutamaan agung putri kesayangan Rasulullah Saw tersebut diawal-awal khutbahnya. Beliau mengatakan, "Kita mengawali tahun baru ini dengan shalawat kepada Sayyidah Fatimah as, dan pada dasarnya kita semua telah menjadi tamu beliau."

Ulama yang didaulat menjadi khatib Jum'at tersebut kemudian menyebutkan harapan besarnya bahwa tahun baru Persia kali ini menjadi tahun keberhasilan, kemudahan, kemenangan dan tahun yang penuh dengan cahaya keimanan. Menukil pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamanei yang menamakan tahun 1392 HS sebagai tahun epik politik  dan ekonomi, khatib Jum'at Teheran tersebut berkata, "Musuh pada tahun 1391 HS dan sepanjang 34 tahun semenjak kemenangan Revolusi Islam Iran telah menggencarkan berbagai tekanan dan konspirasi terhadap bangsa Iran, bahkan termasuk dengan agresi militer. Tujuan utamanya adalah menghancurkan sistem politik Iran."

"Kemenangan revolusi rakyat Iran bukan diraih melalui kudeta ataupun campur tangan dan bantuan pihak asing. Namun melalui petunjuk dan bimbingan seorang ulama marja taklid yang kemudian rakyat memberikan dukungan dan ketaatan sepenuhnya padanya. Negara ini adalah Negara fukaha, Negara yang rakyatnya taat dan patuh pada hukum dan syariat, dan rakyat yang bertekad menyatukan diri di bawah satu bendera revolusi agamis. Karenanya rakyat agamis Iran akan selalu memberikan pembelaan dan dukungannya terhadap sistem wilayatul faqih dan nilai-nilai revolusi dan tegar bersama dengan sistem wilayah tersebut." Lanjutnya.

Hujjatul Islam wa Muslimin Kazem Shadiqi  dalam lanjutan khutbahnya menegaskan, "Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat."

Beliau kemudian menyebutkan diantara upaya pihak musuh untuk menekan dan mengalahkan Iran adalah dengan memberlakukan embargo ekonomi. Beliau berkata, "Beberapa tahun belakangan ini, pihak musuh menetapkan embargo ekonomi terhadap Iran, namun pada kenyataannya, embargo tersebut gagal dan tidak sesuai dengan hasil yang mereka harapkan. Mereka berkhayal bahwa dengan adanya embargo tersebut rakyat akan mengalami kesulitan hidup dan akhirnya melepaskan kesetiaan terhadap revolusi, sementara rakyat Iran pada 22 Bahman 1391 HS (hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran 11 Februari), begitu juga pada kunjungan Rahbar ke kota Masyhad, menunjukkan kesetiaannya kepada Wilayatul Faqih dan revolusi Islam. Rakyat Iran memperlihatkan kepada pihak musuh, bahwa semakin besar tekanan dan permusuhan yang mereka dapatkan, maka iman rakyat Iran semakin besar dan kuat pula."

Karenanya dengan kenyataan tersebut, Khatib shalat Jumat Tehran, Hujjatul Islam Kazem Seddiqi menilai sanksi sepihak Barat terhadap Iran yang bertujuan untuk membenturkan antara rakyat dan pemerintah,  telah gagal dan menyebutnya akan selalu gagal. Beliau kemudian menyebutkan tujuan lain dari adanya sanksi berupa embargo ekonomi tersebut adalah mencegah kemajuan Iran. "Mereka telah menyaksikan sendiri, Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi telah mengalami kemajuan pesat, dibidang tekhnologi nano, medis, nuklir dan bidang lainnya. Mereka berpikir dengan segala sanksi dan tekanan yang mereka berlakukan atas Iran mampu mencegah segala kemajuan itu. Namun apa yang mereka harapkan itu tidak kesampaian, bahkan pada tahun 1391 HS kita telah menjadi saksi atas kemajuan yang dicapai Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi. Bahkan Iran telah berhasil melakukan peluncuran roket dan satelit ke luar angkasa, mengirim makhluk hidup ke luar angkasa, memproduksi jet tempur canggih, yang semua itu membuktikan bahwa sanksi tidak akan melumpuhkan bangsa Iran."

Hujjatul Islam Seddiqi kemudian menambahkan, sanksi juga menargetkan pemilu presiden mendatang Iran, namun rakyat Iran akan menjawab konspirasi itu dengan partisipasi luas mereka dalam pemilu.

Di bagian lain khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi menyinggung tentang kondisi keamanan di dalam negeri dan mengatakan, pemilu presiden akan digelar dalam kondisi yang tenang dan bebas dari gangguan. Beliau menyerukan dan mengharapkan partisipasi luas rakyat Iran dalam pemilu presiden mendatang dan menyebut partisipasi dalam pemilu adalah bukti dari kesetiaan terhadap Rahbar, para syuhada dan menunjukkan perlawanan terhadap musuh untuk menggagalkan segala bentuk konspirasi mereka.

Khatib Jum'at Teheran tersebut turut menyinggung mengenai para kandidat yang akan maju mencalonkan diri sebagai presiden periode mendatang. "Kita berharap niat para kandidat yang akan maju dalam pencalonan presiden adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Kita bisa menilai, apakah keinginannya menjadi presiden karena haus kekuasaan atau karena cinta pada perkhidmatan. Jika kandidat yang maju cinta pada perkhidmatan dan pelayanan maka kita menyambutnya dengan suka cita, namun jika niatnya karena haus pada kekuasaan, semoga Allah menggagalkan ambisinya."

Pada bagian akhir khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi memesankan kepada masyarakat muslim Iran untuk tetap senantiasa menghidupkan masjid. "Imam masjid hubungannya dengan jama'ahnya disebuah masjid ibarat hubungan seorang ayah terhadap anak disebuah keluarga. Imam masjid harus mampu menarik hati para kaum muda untuk mempertautkan jiwanya pada masjid. Dimana di masjid itu Al-Qur'an dibaca dan dikaji, Nahjul Balaghah disampaikan, dan pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan kaum muda diselesaikan dan dicarikan solusinya. Baik dalam hal akhlak, aqidah maupun masalah ahkam atau fiqh. Masjid harus mampu menjawab semua kebutuhan maknawi dan spritual jama'ahnya. Dan yang memikul tanggungjawab besar ini adalah para pelajar agama, ulama dan para pengurus masjid."

"Hidupkanlah masjid itu. Karena masjid adalah benteng penjaga kemurnian aturan-aturan agama. Masjid adalah tempat untuk meraih segala kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tidak ada hari libur bagi masjid, sebab masjid adalah darussyifa', darul qur'an dan darul tafsir." tegasnya.